SYARAT DAN TATA CARA PENDAFTARAN HAJI

PERSYARATAN :

1. FOTO COPY KTP 10 LEMBAR (Timbal balik)
2. FOTO COPY KARTU KELUARGA (KK) 2 LEMBAR
3. AKTE KELAHIRAN / SURAT KENAL LAHIR / BUKU NIKAH
4. SURAT KETERANGAN KESEHATAN (KIR) DARI PUSKESMAS ATAU RUMAH SAKIT
5. PAS FOTO WARNA LATAR PUTIH : 3X4 = 40 LEMBAR DAN 4X6 = 10 LEMBAR
6. BIAYA BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) UNTUK PORSI : Rp. 25.000.000,- (Dua puluh lima juta rupiah)

TATA CARA PENDAFTARAN :
SEMUA PERSYARATAN KECUALI UANG BPIH, DIBAWA KE KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN / KOTA, TEPATNYA DI SEKSI URUSAN HAJI ATAU URAIS DAN HAJI. SAMPAIKAN SAMA PETUGAS UNTUK MENDAFTAR HAJI. PETUGAS AKAN MENYODORKAN BLANGKO FORMULIR SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji), KEMUDIAN DI ISI FORMULIR OLEH YANG MENDAFTAR ATAU KELUARGA, KEMUDIAN DI TANDA TANGANI OLEH PENDAFTAR (Ingat : PENGISIAN FORMULIR HARUS DENGAN HATI-HATI JANGAN SAMPAI SALAH DATANYA DENGAN DOKUMEN PERSYARATAN.
SETELAH MENGISI SPPH LALU DIBAWA KE BANK BPS (Bank Penerima Setoran) Seperti : BANK RIAU UNTUK RIAU, BNI, BRI DAN SEBAGAINYA. SETELAH DIBAYAR DENGAN MENUNJUKAN SPPH KEPADA PETUGAS BANK DAN PETUGAS BANK MENGAKSES SISKOHAT DAN TERENTRI, MAKA PETUGAS BANK AKAN MEMBERIKAN NOMOR PORSI DAN BUKTI SETORAN.
LALU PENDAFTAR KEMBALI KE KANTOR KEMENAG UNTUK MENYAMPAIKAN BUKTI SETORAN BANK….. KAPAN BERANGKAT HAJINYA.. TERGANTUNG NOMOR PORSINYA… UNTUK RIAU KEBERANGKATAN PERTAHUN LEBIH KURANG = 5010 ORANG

PUITISASI HAJI

YA ALLAH AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU

KAMI DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU

YA ALLAH KAMI PENUHI PANGGILAN-MU

TIDAK ADA SEKUTU BAGI-MU, SUNGGUH SEGALA PUJI DAN KEBESARAN ADALAH UNTUK-MU SEMATA, SEGENAP KERAJAAN JUGA MILIK-MU.

TIDAK ADA SEKUTU BAGI-MU

YA RASULULLAH KAMI RINDU PADAMU, RINDU RASA RINDU RUPA, RASA BERSUA TAPI TIADA, GEMGAM ERAT TANGAN KAMI YA RASUL, KAMI GAPAI KASIHMU,

IRINGKAN KAMI SEBAGAI UMAT MEMPEROLEH SYAFA’AT DI YAUMIL MAHSYAR HARI PEMBALASAN, TANPA ENGKAU BERI PERTOLONGAN, KEKALLAH KAMI DI SIKSA TUHAN.

SAMBUT SALAM KAMI YA RASULALLAH, TERIMA SALAM KAMI YA RASULALLAH

ASSALAMU’ALAIKA YA RASULALLAH, ASSALAMU’ALAIKA YA NABI YA ALLAH, ASSALAMU’ALAIKA YA HABIBALLAH, ASSALAMU’ALAIKA YA SYAFA’ATALLAH.

YA ALLAH, YA RABB…, SUNGGUH KAMI MEMOHON  KERIDHAAN-MU DAN MENGHARAPKAN SYURGA-MU

OLEH KARNANYA YA ILAHI, BERIKANLAH KAMI KEBAHAGIAAN HIDUP DI DUNIA DAN AKHIRAT NANTI, HINDARKANLAH KAMIDARI SIKSA AZAB YANG SANGAT PEDIH.

(Karya : Drs. H. Azwan)

PENGALAMAN UNIK MENJADI TAMU ALLAH

(Pengalaman Pribadi : H. Armadis, S. Ag)

  1. MASJID BERGOYANG

Pada hari pertama melaksanakan sholat Arba’in di Masjid Nabawi Madinah tepatnya pada Sholat Magrhib, saya melaksanakan sholat berdampingan dengan salah seorang jama’ah dari kuansing, seorang bapak yang paru baya, seuasai sholat, tak lama berselang terdengar suara bilal mengumandangkan iqamah sholat jenazah. Setelah sholat jenazah selesai, kami pun masing-masing berzikir dan berdo’a dengan cara masing-masing. Setelah semuanya selesai, seorang bapak paru baya yang tergabung dalam Kloter 5 Gelombang Pertama  yang masih setia dengan tanda kacunya “warna merah” mencubit lutut saya, sambil berbisik dia berkata : “ Pak, katanya kepada saya. Apakah memang terlalu banyak dosa saya, sambil dia melipat sajadahnya, dia terus berucap, saya merasakan agak lain di masjid ini, bagaimana Pak.. ? balik saya bertanya. Saya mengerjakan sholat di Masjid ini seperti ada gempa, badan saya agak Oyong (bahasa Kuansingnya ).

Pada hari kedua dan  ketiga saya amati dan saya rasakan, sewaktu sholat terutama sholat Maghrib  dan “Isya. Semakin kuat bacaan imamnya semakin agak terasa goyang masjid Rasul tersebut. Saya agak ragu menyampaikan sama kawan-kawan satu Kloter, takut kalau-kalau jadi fitnah.

Pada hari ke 3 setelah pulang dari masjid sampai di kamar Hotel, kebetulan saya juga sekamar dengan H. Safril Manaf. Pak. H. Syaril takkala dia mau ganti pakaian keseharian, dia berucap ; “:Saya merasakan di Masjid Nabawi sewaktu sedang sholat, masjid tersebut terasa bergoyang. Dengan ucapan berani saya juga mengatakan demikan termasuk kawan-kawan yang lain. Ternyata memang sebuah keajaiban, bukan dosa kita yang banyak, kalau dirasakan ketika dalam sholat memang “Masjid Nabawi bergoyang”. “Subnanallah”.  Wallahu’alam.

  1. DISERAHI AL QUR AN

Taman Raudha adalah salah satu taman-taman Syurga yang berada di dekat Mimbar Rasulullah yang juga tidak Jauh dari Maqam Rasulullah,  yang berada di dalam  Masjid Nabawi Madinah.  Raudha salah satu tempat semua jama’ah tertuju ingin kesana setiap waktu, itulah sala satu tempat yang Mustajab untuk  berdo’a. Sebaiknya kita juga sholat sunnat dan membaca Al qur an. Tempat yang lebih kurang seleuas Lapangan Volly Ball tersebut setiap sa’at selalu penuh oleh jama’ah  terutama seusai sholat lima waktu. Kalau kita ingin kesana harus dengan perjuangan berdesak-desakan, apalagi disamping kiri kanan muka belakang kita  ada orang kulit hitam badannya besar dan tinggi., kalau demikian kita hadapi dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Pada hari keempat , untuk yang ketiga kalinya saya berada di “Raudha” pada hari sebelumnya saya hanya bisa mengerjakan sholat Sunnah dan berdo’a, termasuk menyampaikan do’a orang-orang yang berpesan do’a sewaktu berangkat dari kampung halaman. Untuk kali ini saya ingin berlama-lama seperti hari sebelumnya, kebetulan waktu itu sangat penuh sesak, jangankan untuk duduk agak santai tempat sujud bahkan dipunggung orang, untuk melangkah tempat telapak kaipun tidak ada, sambil bersimpuh setalah sholat sunnat dan berdo’a.  saya ingin membaca Al Qur an. Kebetulan tempat saya agak jauh ketengah, untuk menjemput Al Qur an dekat tiang-tiang Masjid sangat susah sekali. Biasanya di Raudha itu tidak boleh berlama-lama, karena ribuan jama’ah yang antrian. Kenapa kali ini kami di perbolehkan agak lama, dalam pikiran saya,  ini suatu kesempatan bisa membaca Al Qur an, saya hanya bisa baca al qur an yang hafal saja. Tidak beberapa lama dari jarak lebih kurang 6 meter tempat saya bersimpuh, seorang Polisi penjaga Raudha membawa Al Qur an  3 buah dan berjalan kearah saya. Begitu banyak orang mengulurkan tangan ingin memintah pula, yang dua al qur an telah diberikan kepada orang yang dekat dengan polisi tersebut, karena polisi itu dari kejauhan matanya menghadap saya, saya pun berharab bisa mendapatkan al qur an. Ternyata polisi itu mengantarkannya kepada saya, yang orang dekat saya banyak pula yang mengulurkan tan gannya, ternayata kepada saya diberikan, “Alhamdulillah, ternyata keinginan dan do’a kita cepat dimaqbulkan oleh Allah. SWT. Di Raudha ini, saya di “serahi Al qur an”. Suatu kenikmatan membaca Al Quran ditaman Raudha ini, Alhamdulillah Ya Allah.

  1. HADIAH TASBIH

Pada suatu hari di Masjidil Haram, sambil menunggu waktu sholat “ashar masuk” lebih kurang 30 menit. Tempat duduk syaf sudah tersusun rapat, ada sorang Turki badanya besar, kulitnya putih, hidung mancung, ingin duduk dekat saya, kira-kira dia mau menompang disamping saya, karena seidkit agak renggang saya berusaha untuk memberinya tempat duduk, dia pun duduk menyesuaikan dengan syaf saya sambil dia berucap : “Indonesia good” (saya seikit paham artinya ; Indonesia bagus, Indonesia baik). Ternyata siTurki sudah tau dengan perawakan orang Indonesia, dia bisa menerka bahwah saya asal  Indonesia. Sambil ngomong-ngomong dalam bahasa isyarat sedikit dengan bahasa inggris yang kurang pas. Siturki menyodorkan kepada saya :”Menghadiakan Sebuah Tasbih kecil” dengan buahnya seperti untaian  mutiara. Saya sangat senang menerima tasbih tersebut, apalagi dari saudara kita berlainan negara, lain bahasa. Dalam pikiran Saya berjajnji akan menyimpan tasbih mutiara tersebut sebagai kenang-kenangan  yang tak dilupakan. Selanjutnya saya berpikir pula  apa yang harus saya berikan kepada jama’ah dari turki ini dalam pikiran saya. Kebetulan di dompet, saya punya uang kecil rupiah senilai Rp. 5.000,- , sayapun menghadiakannnya, dia menerima uang tersebut dengan senang hati lalu meperlihatkan kepada temanya yang ada dibelakang kami, dia berbicara dalam bahasa Turki, yang artinya saya tak tau, barang kali dia bertanya berapa nilai kalau uang Turkinya, sayapun mengatakan, dalam bahasa arab “ Isnaini Riyal (Libih kurang 2 Riyal).

Sesuai sholat kamipun berangkulan tanda persahabatan dan akhirnya kami berpisah entah kapan kami bisa bertemu lagi. Insya’ Allah….

  1. LALAT NAIK HAJI.

Kloter 5 BTH Di Kota Makkah  tinggal di Daerah “Syauqia” yang dikenal dengan daerah “Dam” yaitu suatu daerah tempat penyembilahan hewan, baik hewan untuk dam maupun hewan untu Qurban lebih kurang jarak ke Masjidil Haram 10 Km. Rumah yang kami tempati ada 3 Maktab (Hotel/Penginapan), Maktab dengan nomor 665, 666 dan 667. saya tinggal di Maktab 666. pada hari pertama saya sampai di kota Makkah  begitu banyak lalat,. Baik dalam rumah mapun diluar. Disitu kita tengok tidak ada limbah rumah tangga atau tempat kotor, saya pikir kok banyak lalat. Kemudian saya tanya kepada pembantu rumah tempat kami tinggal, kenapa banyak lalat..? sekarang lagi musim dingin, oooh saya bilang sambil mengangguk-anggukan kepala. Banyaknya lalat bahkan sampai ke kamar tidur kita, kalau kita tidur siang sangat terganggu karena lalat hinggap dimata dan dibibir,  dipipi dan sebaginnya.

Pada tanggal 08 Dzulhijjah 1429 H kami sudah berangkat ke “Padang Arafah” sampai pada sore hari. Ternyata di Padang arafah juga banyak lalat, saya pikir, yang hadir ke Padang Arafah ini bukan hannya orang yang mengerjakan rukun haji, ternyata  lalat ikut hadir ke Padang ‘Arafah.

Setelah kami pulang dan kembali ke Maktab di Syauqiah, ternyata lalat sangat sulit untuk dijumpai, kalaupun ada satu atau dua ekor saja. Sayapun mengamati dan berpikir, o…., “Ternyata Lalat juga ikut naik Haji”.

Wallahu ‘alam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.